Dialoh
5 min read483

Inflasi Mei 2026 Tetap Rendah, Menunjukkan Keberhasilan Menjaga Stabilitas Harga dan Daya Beli

Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, energi, dan transportasi, inflasi Indonesia pada Mei 2026 tetap berada di level terkendali. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi bulanan sebesar 0,28 persen dan inflasi tahunan 3,08 persen. Capaian ini menjadi indikator bahwa kebijakan pengendalian harga dan pengamanan pasokan yang dilakukan pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional.

O

OP Admin

Published in Dialoh

Loading...
Inflasi Mei 2026 Tetap Rendah, Menunjukkan Keberhasilan Menjaga Stabilitas Harga dan Daya Beli

Inflasi Mei 2026 Tetap Terkendali Meski Dihadapkan pada Berbagai Tekanan

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month). Angka tersebut meningkat dibandingkan April 2026 yang berada di level 0,13 persen, namun masih tergolong rendah dan berada dalam rentang yang aman bagi perekonomian nasional.

Secara tahunan (year-on-year), inflasi tercatat sebesar 3,08 persen, sedangkan inflasi kalender Januari hingga Mei 2026 mencapai 1,35 persen.

Capaian ini menunjukkan bahwa tekanan harga yang muncul sepanjang Mei belum berkembang menjadi gejolak inflasi yang mengganggu stabilitas ekonomi. Padahal pada periode yang sama terdapat sejumlah faktor yang berpotensi mendorong kenaikan harga, mulai dari berkurangnya produksi beberapa komoditas pangan hingga kenaikan biaya energi dan transportasi.

Dalam konteks ekonomi makro, inflasi yang tetap rendah menjadi indikator penting bahwa keseimbangan antara pasokan dan permintaan masih dapat dijaga dengan baik.


Komoditas Pangan Menjadi Penyumbang Utama Inflasi Bulanan

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Mei 2026 dengan andil sebesar 0,12 persen terhadap inflasi nasional.

Cabai merah menjadi komoditas yang memberikan kontribusi paling besar setelah mengalami inflasi hingga 25,64 persen dengan andil 0,08 persen. Selain itu, bawang merah mengalami inflasi 6,65 persen dengan andil 0,04 persen, tomat naik 9,82 persen dengan andil 0,03 persen, minyak goreng meningkat 2,87 persen, serta beras mengalami inflasi sebesar 0,38 persen.

Kenaikan harga tersebut tidak terlepas dari penurunan produksi di sejumlah sentra pertanian utama seperti Garut, Temanggung, dan Malang. Cuaca ekstrem, kekeringan, serta serangan organisme pengganggu tanaman menjadi faktor yang memengaruhi hasil panen selama periode tersebut.

Namun demikian, inflasi pangan tidak meningkat lebih tinggi karena beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga.

Daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 3,83 persen dengan andil minus 0,06 persen. Telur ayam ras turun 5,14 persen dengan andil minus 0,05 persen, sementara bawang putih mengalami deflasi sebesar 3,06 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasokan pangan nasional masih cukup terjaga sehingga tekanan harga hanya terjadi pada komoditas tertentu dan tidak menyebar secara luas.


Penyesuaian Harga Energi dan Transportasi Berlangsung Secara Terukur

Selain faktor pangan, inflasi Mei 2026 juga dipengaruhi oleh penyesuaian harga energi dan meningkatnya biaya transportasi.

Harga LPG nonsubsidi mengalami kenaikan sekitar 19 persen sejak April 2026 mengikuti perkembangan harga energi internasional. Pada saat yang sama, kenaikan harga avtur di berbagai bandara domestik turut mendorong peningkatan tarif angkutan udara.

Kelompok transportasi memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen terhadap inflasi nasional. Tarif angkutan udara tercatat naik 2,75 persen, solar meningkat 4,22 persen, pelumas kendaraan naik 3,85 persen, dan biaya pemeliharaan kendaraan bertambah 0,70 persen.

Meski terdapat tekanan dari sektor energi, dampaknya terhadap inflasi secara keseluruhan masih tergolong terbatas. Tidak terjadi lonjakan harga yang signifikan pada berbagai sektor lain yang dapat mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.

Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme penyesuaian harga berlangsung secara bertahap dan tetap mempertimbangkan stabilitas ekonomi domestik.


Inflasi Inti yang Rendah Menjadi Indikator Positif

Salah satu indikator yang paling diperhatikan dalam mengukur kesehatan ekonomi adalah inflasi inti (core inflation), karena mencerminkan tekanan harga yang lebih permanen.

Pada Mei 2026, inflasi inti hanya tercatat sebesar 0,22 persen dengan andil 0,14 persen terhadap inflasi umum.

Komoditas yang memberikan kontribusi terhadap inflasi inti antara lain minyak goreng, telepon seluler, laptop, pelumas kendaraan, nasi dengan lauk, dan biaya pemeliharaan.

Rendahnya inflasi inti menunjukkan bahwa kenaikan harga yang terjadi masih bersifat sementara dan belum merambat ke seluruh lapisan ekonomi.

Sementara itu, komponen harga bergejolak (volatile food) juga hanya mengalami inflasi sebesar 0,22 persen dengan andil 0,04 persen. Angka tersebut relatif rendah apabila dibandingkan dengan tekanan pasokan yang terjadi pada beberapa komoditas pertanian selama Mei.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa ekspektasi inflasi masyarakat masih terjaga dan risiko kenaikan harga yang lebih besar masih dapat dikendalikan.


Deflasi Harga Emas Membantu Menahan Laju Inflasi

Di tengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok, terdapat satu kelompok pengeluaran yang justru mengalami penurunan harga.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat deflasi sebesar 0,74 persen dengan andil minus 0,05 persen terhadap inflasi nasional. Faktor utama yang mendorong deflasi tersebut adalah turunnya harga emas perhiasan sebesar 2,67 persen.

Penurunan harga emas bahkan telah berlangsung selama tiga bulan berturut-turut sejak Maret 2026. Tren ini mengikuti pelemahan harga emas dunia yang turun dari level US$5.019,97 per troy ounce menjadi sekitar US$4.587,21 per troy ounce pada Mei 2026.

Penurunan harga emas tersebut memberikan kontribusi positif dalam meredam tekanan inflasi yang berasal dari kelompok pangan dan energi.


Fondasi Ekonomi yang Kuat Menjadi Penopang Stabilitas

Keberhasilan menjaga inflasi tidak berdiri sendiri. Stabilitas harga didukung oleh kondisi fundamental ekonomi nasional yang masih kuat.

Indonesia kembali mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$0,09 miliar pada April 2026. Dengan capaian tersebut, surplus perdagangan telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.

Sepanjang Januari hingga April 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai US$92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang meningkat 9,78 persen.

Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 mencapai 127,73 atau naik 1,99 persen dibandingkan April 2026. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pendapatan petani tumbuh lebih cepat dibandingkan biaya yang harus mereka keluarkan.

Surplus perdagangan yang konsisten, stabilitas nilai tukar, dan meningkatnya kesejahteraan petani menjadi fondasi penting yang membantu menjaga stabilitas harga di tingkat nasional.


Inflasi Rendah Menjadi Bukti Efektivitas Pengendalian Harga

Data Mei 2026 menunjukkan bahwa Indonesia mampu menjaga laju inflasi tetap terkendali meskipun menghadapi berbagai tekanan dari sektor pangan, energi, dan transportasi.

Keberhasilan tersebut merupakan hasil kombinasi kebijakan yang melibatkan penguatan pasokan pangan, pengawasan distribusi, koordinasi pemerintah pusat dan daerah, serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter.

Bagi masyarakat, inflasi yang terkendali berarti harga kebutuhan pokok tetap relatif stabil, daya beli lebih terjaga, dan aktivitas ekonomi dapat berlangsung dengan lebih pasti.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, inflasi sebesar 0,28 persen pada Mei 2026 menjadi salah satu indikator bahwa ekonomi Indonesia tetap memiliki daya tahan yang kuat dan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas harga.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!