
JAKARTA – Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kinerja produksi beras paling positif di tengah proyeksi penurunan produksi beras global pada periode 2026/2027. Laporan terbaru FAO menunjukkan produksi beras nasional terus meningkat, sementara sejumlah negara produsen utama justru menghadapi tekanan akibat perubahan iklim dan tantangan sektor pertanian.
Pencapaian tersebut menjadi sinyal positif bagi ketahanan pangan nasional. Di tengah ancaman El Nino yang berpotensi mengganggu produksi pangan dunia, Indonesia justru mencatat tren peningkatan produksi dan penguatan cadangan beras nasional.
FAO Proyeksikan Produksi Beras Indonesia Naik Signifikan
Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO memproyeksikan produksi beras Indonesia mencapai sekitar 38,6 juta ton setara beras giling pada periode 2026/2027. Angka tersebut meningkat dibandingkan produksi sekitar 34 juta ton pada periode 2024/2025.
Kenaikan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan produksi beras tertinggi di antara produsen utama dunia. Di saat sejumlah negara mengalami perlambatan atau penurunan produksi, sektor pertanian Indonesia justru menunjukkan tren yang positif.
Pemerintah melalui berbagai program peningkatan produksi pangan, perbaikan irigasi, distribusi alat dan mesin pertanian, serta penguatan serapan hasil panen dinilai berkontribusi terhadap peningkatan produksi nasional.
Indonesia Jadi Produsen Beras Terbesar Keempat Dunia
FAO kembali menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia setelah India, China, dan Bangladesh. Indonesia juga mempertahankan posisinya sebagai produsen beras terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Data tersebut menunjukkan posisi strategis Indonesia dalam menjaga stabilitas pangan nasional maupun regional. Bahkan, FAO mencatat bahwa dari empat negara produsen terbesar dunia, hanya Indonesia dan China yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan produksi positif dalam periode mendatang.
Pencapaian ini menjadi indikator bahwa sektor pertanian nasional mampu menjaga produktivitas meski menghadapi tantangan cuaca dan dinamika ekonomi global.
Produksi Beras Dunia Diprediksi Turun Akibat Tekanan Iklim
Di sisi lain, FAO memproyeksikan produksi beras dunia pada periode 2026/2027 turun sekitar 1,6 persen menjadi 552,4 juta ton. Penurunan tersebut terjadi setelah beberapa musim panen besar secara global.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah fenomena El Nino yang diperkirakan memengaruhi pola cuaca di berbagai kawasan penghasil pangan dunia. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kekeringan di sejumlah negara Asia dan mengganggu produktivitas pertanian.
Beberapa negara produsen beras utama bahkan diproyeksikan mengalami penurunan produksi, termasuk Thailand, India, Myanmar, dan sejumlah negara Asia lainnya.
Stok Beras Nasional Capai Rekor Tertinggi
Selain peningkatan produksi, Indonesia juga mencatat capaian positif pada sisi cadangan pangan. Stok beras nasional yang dikelola pemerintah melalui Bulog dilaporkan mencapai level tertinggi dalam sejarah, memperkuat ketahanan pangan nasional menghadapi berbagai potensi gangguan pasokan.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut stok beras nasional berada dalam kondisi aman dan menjadi salah satu faktor yang mendukung stabilitas harga pangan di dalam negeri. FAO juga menilai peningkatan stok beras Indonesia turut berkontribusi terhadap stabilitas cadangan beras global.
Keberhasilan menjaga produksi sekaligus memperkuat stok beras menunjukkan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional mulai menunjukkan hasil yang nyata. Di tengah tantangan iklim dan ketidakpastian ekonomi global, sektor pertanian Indonesia menjadi salah satu contoh negara yang mampu menjaga keseimbangan antara produksi, cadangan, dan stabilitas pangan.
.png)











