Dialoh
4 min read323

Di Tengah Wacana Reformasi Jilid II, Mahasiswa Semarang Pilih Dialog dan Kawal Pembangunan Secara Kritis

SEMARANG – Di saat berbagai kelompok di sejumlah daerah menyuarakan wacana Reformasi Jilid II melalui aksi demonstrasi, sekelompok mahasiswa, akademisi, aktivis, dan budayawan di Semarang justru memilih jalur dialog sebagai sarana menyampaikan kritik, gagasan, dan harapan terhadap masa depan Indonesia.

O

OP Admin

Published in Dialoh

Loading...
Di Tengah Wacana Reformasi Jilid II, Mahasiswa Semarang Pilih Dialog dan Kawal Pembangunan Secara Kritis

Melalui forum “Bicara Merdeka: Reformasi Jilid II” yang digelar di Hans Kopi Veteran, Semarang, para peserta mendiskusikan berbagai persoalan kebangsaan secara terbuka. Forum yang diselenggarakan RMOL Jateng tersebut menjadi ruang bertemunya berbagai perspektif mengenai demokrasi, pembangunan nasional, dan peran masyarakat dalam mengawal jalannya pemerintahan.

Hadir dalam diskusi tersebut Wakil Ketua Umum Luar Negeri LMND Evantio Yudhistira, Presiden BEM Polines Kevin Kurnia Priambodo, akademisi sekaligus pengamat politik Universitas Diponegoro Nur Hidayat Sardini, dan budayawan Beno Siang Pamungkas. Acara dipandu oleh moderator Edhi Prayitno Ige.

Ruang Diskusi Dinilai Lebih Relevan di Tengah Tantangan Bangsa

Dalam paparannya, Evantio Yudhistira menilai Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak ruang dialog yang mampu mempertemukan berbagai kelompok masyarakat untuk membahas persoalan bangsa secara objektif dan rasional.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi Indonesia tidak bisa diselesaikan melalui polarisasi atau pertentangan yang berkepanjangan. Yang dibutuhkan adalah ruang diskusi yang mampu melahirkan solusi dan memperkuat persatuan nasional.

“Diskusi seperti ini memang dibutuhkan oleh bangsa kita saat ini. Diskusi yang ilmiah, penuh dialektika, menjadi kebutuhan bersama. Apa yang kita lakukan untuk bangsa saat ini membutuhkan persatuan nasional, dan salah satu bentuknya adalah ruang diskusi seperti ini,” ujar Evantio.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat perlu lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial dan tidak terjebak pada narasi yang hanya menonjolkan sisi negatif.

“Kita harus melihat situasi secara objektif, jangan sampai termakan algoritma atau emosi yang terus menampilkan keburukan. Kita harus melihat secara menyeluruh apa yang dilakukan negara saat ini,” tambahnya.

Menurut Evantio, pendekatan yang objektif penting agar masyarakat dapat menilai kebijakan pemerintah secara proporsional, termasuk melihat berbagai upaya perbaikan yang sedang dilakukan dalam sektor ekonomi, sosial, maupun pembangunan.

Mahasiswa Diajak Mengawal, Bukan Sekadar Mengkritik

Dalam forum tersebut, Evantio juga menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga terlibat dalam mengawal berbagai program pembangunan agar berjalan sesuai tujuan.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil, untuk ikut memastikan bahwa sumber daya nasional benar-benar digunakan bagi kepentingan rakyat.

“Momentum ini harus menjadi titik balik agar sumber daya bangsa bisa dinikmati untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai agenda pemerintah yang saat ini berfokus pada penguatan kemandirian ekonomi nasional, hilirisasi industri, ketahanan pangan, dan pemerataan pembangunan hingga ke daerah-daerah.

Akademisi Dorong Evaluasi Program Secara Konstruktif

Sementara itu, akademisi Universitas Diponegoro, Nur Hidayat Sardini, menilai forum diskusi publik seperti ini memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas demokrasi Indonesia.

Menurutnya, ruang dialog yang sehat dapat menjadi sarana untuk mengevaluasi berbagai kebijakan pemerintah sekaligus memberikan rekomendasi perbaikan yang berbasis data dan kebutuhan masyarakat.

“Di Semarang masih sangat sedikit forum yang secara serius membedah komitmen kita terhadap perbaikan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujarnya.

Nur Hidayat mencontohkan program Koperasi Merah Putih yang menurutnya perlu terus disempurnakan dari sisi tata kelola agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal oleh masyarakat.

“Bukan soal mendukung atau menolak, tetapi bagaimana tata kelola program itu diperbaiki. Harus jelas siapa sasaran penerima manfaat, bagaimana rekrutmen operatornya, serta bagaimana distribusinya agar tepat sasaran,” jelasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kritik yang konstruktif dapat menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan program-program strategis pemerintah.

Demokrasi Tidak Hanya di Jalanan

Salah satu pesan utama yang muncul dalam forum tersebut adalah bahwa demokrasi tidak selalu harus diwujudkan melalui aksi demonstrasi. Diskusi, kajian, dan pertukaran gagasan juga merupakan bagian penting dari proses demokrasi yang sehat.

Para peserta forum sepakat bahwa ruang intelektual perlu terus diperkuat agar masyarakat memiliki kesempatan untuk memahami persoalan bangsa secara lebih mendalam sebelum mengambil sikap.

Melalui dialog yang terbuka, berbagai pandangan dapat dipertemukan tanpa harus menciptakan konflik atau perpecahan di tengah masyarakat.

Membangun Indonesia Melalui Kolaborasi

Forum “Bicara Merdeka: Reformasi Jilid II” pada akhirnya menjadi contoh bagaimana mahasiswa dan masyarakat sipil dapat berpartisipasi dalam pembangunan nasional melalui pendekatan yang dialogis dan konstruktif.

Di tengah berbagai tantangan global seperti perlambatan ekonomi, perubahan geopolitik, dan persaingan antarnegara, Indonesia membutuhkan persatuan dan kolaborasi dari seluruh elemen bangsa.

Melalui forum-forum seperti ini, mahasiswa tidak hanya menjadi pengkritik kebijakan, tetapi juga mitra strategis dalam memberikan masukan dan mengawal berbagai program pembangunan yang sedang dijalankan pemerintah.

Dengan semangat dialog, persatuan, dan solusi, forum tersebut menunjukkan bahwa perubahan dapat diperjuangkan tidak hanya melalui aksi di jalan, tetapi juga melalui gagasan yang lahir dari ruang-ruang diskusi yang terbuka dan bertanggung jawab.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles