Dialoh
•2 min read•44

Inovasi Prasmanan Program MBG BGN: Efisiensi Anggaran dan Edukasi Bebas Limbah Pangan di Sekolah

JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) terus berikhtiar mengoptimalkan penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia. Melalui uji coba skema penyajian makanan secara prasmanan di sekolah-sekolah, BGN menghadirkan pendekatan baru yang tidak hanya meningkatkan efisiensi pangan, tetapi juga membentuk kebiasaan positif pada siswa.

O

OP Admin

Published in Dialoh

Loading...
Inovasi Prasmanan Program MBG BGN: Efisiensi Anggaran dan Edukasi Bebas Limbah Pangan di Sekolah

Kepala BGN Sudaryono menyebutkan bahwa skema prasmanan terbukti ampuh menekan jumlah sisa makanan terbuang (food waste) sekaligus mendorong tingkat konsumsi gizi para murid agar lebih optimal.

Memberikan Keleluasaan Porsi untuk Mencegah Makanan Mubazir

Melalui sistem prasmanan, para siswa diberi kebebasan untuk mengambil porsi makanan sesuai dengan tingkat lapar dan kapasitas fisik mereka. Hal ini menjadi solusi efektif atas problem makanan sisa yang kerap ditemui pada pola pembagian porsi seragam dalam kemasan (box/tray).

Selain meminimalkan potensi makanan terbuang, hidangan yang disajikan secara prasmanan terasa lebih segar dan hangat saat disantap. Murid yang membutuhkan asupan lebih juga dipersilakan untuk menambah porsi, sehingga pemenuhan nutrisi dan energi harian mereka dapat tercukupi dengan baik.

Manajemen Anggaran Tetap Efektif di Angka Rp15.000

Penerapan metode penyajian yang fleksibel ini dipastikan tidak mengganggu struktur alokasi anggaran yang ada. BGN menegaskan bahwa standar biaya operasional program MBG tetap dipertahankan pada batas Rp15.000 per porsi.

Kepala BGN Sudaryono menjelaskan bahwa terobosan ini menjadi bukti nyata bahwa perbaikan kualitas layanan gizi dan penekanan angka food waste dapat diwujudkan tanpa harus menambah beban anggaran negara.

Target Penjangkauan Hingga 5.000 SPPG di Akhir 2026

Saat ini, program percontohan (piloting) MBG prasmanan telah diuji coba pada 66 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah. Sebaran titik percontohan ini meliputi wilayah Pulau Jawa, Sumatera (Aceh dan Palembang), hingga ke wilayah perbatasan di Merauke.

Melihat hasil uji coba yang dinilai memuaskan, BGN menargetkan sebanyak 5.000 SPPG dapat mengadaptasi metode prasmanan ini pada akhir tahun 2026.

"Pelaksanaan MBG prasmanan tentu disesuaikan dengan kesiapan masing-masing pihak dapur SPPG dan sekolah. Jika sudah terbiasa, skema ini sangat bagus untuk membangun edukasi pola makan anak sekaligus memastikan makanan yang disiapkan tidak mubazir," terang Kepala BGN Sudaryono.

Menanamkan Nilai Kemandirian dan Menghargai Pangan

Penerapan skema prasmanan di sekolah turut menghadirkan nilai edukasi karakter yang penting bagi perkembangan anak. Para murid diajarkan untuk bersikap mandiri, mengantre dengan tertib, mengambil porsi secara terukur, dan membiasakan diri untuk menghabiskan makanan yang diambil.

Langkah inovatif ini mempertegas komitmen BGN dalam menyelenggarakan program pemenuhan gizi nasional yang ramah lingkungan, hemat operasional, serta berdampak positif bagi tumbuh kembang generasi muda.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles