Dialoh
4 min read88

Perkuat Posisi Global: Presiden Prabowo Usung Agenda Perdagangan dan Reformasi Lembaga Keuangan di KTT BRICS

NEW DELHI — Presiden Prabowo Subianto membawa agenda penguatan ekonomi dan perdagangan Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di New Delhi, India. Keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut menjadi momentum untuk memperluas kerja sama ekonomi sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam tata kelola ekonomi global.

O

OP Admin

Published in Dialoh

Loading...
Perkuat Posisi Global: Presiden Prabowo Usung Agenda Perdagangan dan Reformasi Lembaga Keuangan di KTT BRICS

KTT BRICS ke-18 digelar pada 12-13 September 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi. India selaku pemegang keketuaan BRICS 2026 mengusung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability.”

Melalui forum tersebut, Indonesia menyampaikan sejumlah kepentingan strategis, khususnya terkait perdagangan internasional, sistem keuangan global, ketahanan rantai pasok, serta kerja sama ekonomi antarnegara berkembang.

Prabowo Perkuat Posisi Indonesia di BRICS

Kehadiran Presiden Prabowo menjadi bagian dari upaya Indonesia mengambil peran lebih aktif dalam BRICS.

Sebagai anggota penuh, Indonesia memiliki kesempatan untuk terlibat langsung dalam pembahasan berbagai agenda strategis yang menyangkut ekonomi dan pembangunan global.

Prabowo dijadwalkan mengikuti dua sesi utama KTT BRICS. Sesi pertama melibatkan negara anggota, sedangkan sesi kedua mempertemukan negara anggota dengan negara mitra.

Keterlibatan tersebut memberikan ruang bagi Indonesia untuk menyampaikan kepentingan nasional sekaligus membangun komunikasi dengan negara-negara yang memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian dunia.

Perdagangan Global Jadi Fokus Indonesia

Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah penguatan sistem perdagangan internasional.

Indonesia mendorong terciptanya perdagangan global yang terbuka, transparan, inklusif, dan berbasis aturan. Sistem tersebut dinilai penting untuk menjaga kelancaran perdagangan serta memberikan kesempatan yang lebih adil bagi negara berkembang.

Dalam pembahasan tersebut, reformasi World Trade Organization (WTO) menjadi salah satu isu yang mendapatkan perhatian.

Indonesia berkepentingan memastikan sistem perdagangan multilateral tetap relevan menghadapi perkembangan ekonomi global dan mampu memberikan ruang yang memadai bagi negara-negara berkembang.

Dorong Pembaruan Tata Kelola Ekonomi Dunia

Agenda Indonesia di BRICS juga mencakup reformasi lembaga ekonomi dan keuangan internasional.

International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia termasuk lembaga yang menjadi bagian dari pembahasan mengenai tata kelola ekonomi global.

Indonesia mendorong sistem internasional yang lebih inklusif sehingga kepentingan negara berkembang dapat memperoleh ruang lebih besar dalam proses pengambilan keputusan.

Keterlibatan dalam pembahasan ini menjadi bagian dari langkah Indonesia untuk ikut membentuk arah kerja sama ekonomi global, bukan sekadar menjadi penerima kebijakan.

Transaksi Mata Uang Lokal Diperkuat

Kerja sama keuangan juga menjadi bagian dari agenda BRICS.

Salah satunya melalui penguatan implementasi Local Currency Settlement (LCS), yakni mekanisme penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal.

Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dapat memperkuat hubungan ekonomi antarnegara sekaligus memberikan alternatif dalam aktivitas perdagangan lintas negara.

Bagi Indonesia, penguatan kerja sama tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya memperluas instrumen dan jaringan kerja sama keuangan dengan negara-negara mitra.

Ketahanan Rantai Pasok Jadi Perhatian

Selain perdagangan dan keuangan, ketahanan rantai pasok global turut menjadi agenda pembahasan.

Rantai pasok yang kuat diperlukan untuk menjaga kelancaran perdagangan dan memastikan kebutuhan produksi maupun konsumsi dapat terpenuhi di tengah perubahan kondisi ekonomi global.

BRICS juga membahas isu energi, ketahanan pangan dan pertanian, digitalisasi serta teknologi, perubahan iklim, dan lingkungan.

Agenda tersebut menunjukkan bahwa kerja sama ekonomi BRICS semakin mencakup berbagai sektor yang berhubungan dengan ketahanan dan keberlanjutan pembangunan.

Ekonomi, Investasi hingga Teknologi Terhubung

Agenda Prabowo di BRICS didukung oleh sejumlah pejabat Kabinet Merah Putih.

Presiden didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Kehadiran para pejabat tersebut memperlihatkan bahwa keterlibatan Indonesia di BRICS memiliki cakupan yang luas.

Ekonomi, perdagangan, investasi, diplomasi, pendidikan, serta teknologi menjadi bagian dari kepentingan Indonesia dalam memperkuat hubungan dengan negara-negara BRICS.

Indonesia Buka Peluang Kerja Sama Lebih Luas

Keanggotaan penuh Indonesia di BRICS memberikan ruang untuk memperluas hubungan ekonomi dengan berbagai negara.

Forum tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun peluang baru dalam perdagangan, investasi, teknologi, energi, pangan, dan sektor strategis lainnya.

Di tengah perubahan ekonomi global, diversifikasi hubungan ekonomi menjadi penting untuk memperkuat ketahanan nasional.

Indonesia juga dapat memanfaatkan forum multilateral untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok global.

Prabowo Dorong BRICS Beri Manfaat bagi Negara Berkembang

Kehadiran Prabowo di KTT BRICS ke-18 memperlihatkan komitmen Indonesia untuk berperan aktif dalam pembahasan ekonomi global.

Agenda yang dibawa tidak hanya berkaitan dengan peningkatan perdagangan, tetapi juga menyentuh reformasi lembaga multilateral, penguatan transaksi mata uang lokal, ketahanan rantai pasok, energi, pangan, serta transformasi teknologi.

Dengan keterlibatan aktif tersebut, Indonesia memiliki kesempatan untuk memperkuat kerja sama ekonomi sekaligus memperjuangkan kepentingan negara berkembang.

KTT BRICS menjadi salah satu ruang bagi pemerintah untuk memperluas kemitraan ekonomi Indonesia dan membuka peluang kerja sama yang lebih besar bagi pembangunan nasional.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles