Dialoh
4 min read264

Tumpeng Selalu Hadir Saat 17 Agustus, Ternyata Ada Filosofi di Balik Bentuk dan Cara Penyajiannya

JAKARTA – Setiap 17 Agustus, masyarakat Indonesia memiliki beragam cara untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan. Selain upacara, perlombaan, dan berbagai kegiatan di lingkungan masyarakat, tradisi tumpengan juga kerap menjadi bagian dari perayaan.

O

OP Admin

Published in Dialoh

Loading...
Tumpeng Selalu Hadir Saat 17 Agustus, Ternyata Ada Filosofi di Balik Bentuk dan Cara Penyajiannya

Tumpeng biasanya berupa nasi yang dibentuk menyerupai kerucut dan dikelilingi berbagai lauk. Hidangan tersebut kemudian disantap secara bersama-sama dalam suasana penuh kebersamaan.

Meski terlihat sederhana, tumpeng memiliki filosofi yang cukup panjang. Bentuk nasi, posisi lauk, hingga cara membagikannya memiliki makna tersendiri dalam tradisi masyarakat Jawa.

Saat disajikan dalam peringatan kemerdekaan, tumpeng juga menjadi simbol rasa syukur sekaligus harapan terhadap masa depan Indonesia.

Berikut lima fakta dan filosofi tumpeng yang menarik untuk diketahui.

1. Bentuk Kerucut Tumpeng Bukan Tanpa Alasan

Ciri paling mudah dikenali dari tumpeng adalah bentuknya yang menyerupai kerucut.

Bentuk tersebut memiliki kaitan dengan konsep gunung atau gunungan. Dalam tradisi masyarakat Jawa, gunung memiliki nilai simbolis yang kuat dan kerap dikaitkan dengan kehidupan serta hubungan manusia dengan alam dan Tuhan.

Bagian tumpeng yang semakin tinggi ke arah atas juga memberikan gambaran tentang perjalanan manusia menuju sesuatu yang lebih tinggi.

Karena filosofi tersebut, tumpeng sering digunakan dalam kegiatan yang berkaitan dengan rasa syukur dan doa.

2. Tumpeng Mengandung Pesan untuk Menjalani Kehidupan

Filosofi tumpeng juga dikaitkan dengan ungkapan Jawa "Yen metu kudu mempeng".

Ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai pesan agar seseorang menjalani kehidupannya dengan sungguh-sungguh.

Makna tersebut membuat tumpeng tidak hanya berfungsi sebagai makanan, tetapi juga menjadi simbol yang mengandung pesan kehidupan.

Dalam konteks perayaan 17 Agustus, filosofi ini dapat dimaknai sebagai ajakan untuk terus menjalankan kehidupan dan membangun bangsa dengan kesungguhan.

3. Puncak Tumpeng Berkaitan dengan Sang Pencipta

Bagian puncak tumpeng mempunyai posisi yang penting dalam filosofi tradisionalnya.

Ujung tumpeng yang mengarah ke atas dikaitkan dengan gunung dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Dalam sejumlah pemahaman tradisional, gunung dianggap sebagai tempat yang memiliki nilai sakral.

Karena itu, tumpeng sering disajikan dalam kegiatan yang diawali dengan doa.

Pada perayaan kemerdekaan, tumpeng dapat menjadi simbol ungkapan syukur kepada Tuhan atas kemerdekaan yang telah dinikmati masyarakat Indonesia.

4. Tradisi Tumpengan Memperkuat Kebersamaan

Tumpeng pada dasarnya dibuat untuk dinikmati bersama.

Setelah prosesi tertentu dilakukan, tumpeng dan lauk-pauk yang mengiringinya dibagikan kepada orang-orang yang hadir.

Kegiatan tersebut menciptakan suasana kebersamaan dan mempererat hubungan sosial.

Hal ini menjadi salah satu alasan tumpengan tetap populer dalam berbagai acara masyarakat.

Pada momentum 17 Agustus, makan bersama melalui tradisi tumpengan juga dapat menjadi simbol persatuan dalam merayakan kemerdekaan.

5. Tumpeng Tidak Selalu Dipotong dari Bagian Atas

Cara membagikan tumpeng juga memiliki filosofi tersendiri.

Selama ini, banyak orang mengenal tradisi memotong bagian puncak tumpeng sebelum nasi dibagikan.

Namun, dalam tradisi Jawa, tumpeng sebenarnya tidak dianjurkan untuk dipotong pada bagian pucuk.

Nasi justru diambil dari bagian bawah hingga susunan tumpeng perlahan roboh.

Hal tersebut berkaitan dengan filosofi bagian puncak tumpeng yang memiliki makna hubungan manusia dengan Tuhan.

Karena itu, memotong bagian puncaknya dianggap tidak sesuai dengan makna tradisional tersebut.

Tumpeng Pernah Menjadi Bagian Perayaan di Istana

Tumpengan juga bukan hanya tradisi yang berlangsung di lingkungan masyarakat.

Dalam beberapa perayaan Hari Kemerdekaan di Istana Negara, tumpeng menjadi bagian dari rangkaian kegiatan setelah upacara.

Acara tersebut dapat mempertemukan presiden, wakil presiden, mantan pejabat negara, veteran, serta tokoh masyarakat.

Momen makan bersama tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menghormati orang-orang yang memiliki peran dalam perjalanan bangsa.

Veteran Turut Mendapat Tempat dalam Tradisi

Kehadiran veteran dalam acara tumpengan memiliki makna khusus.

Para veteran merupakan bagian dari perjalanan sejarah Indonesia.

Dengan mengundang mereka dalam kegiatan peringatan kemerdekaan, terdapat pesan penghormatan terhadap perjuangan generasi terdahulu.

Tradisi makan bersama juga membuat suasana perayaan kemerdekaan menjadi lebih dekat dan tidak hanya bersifat seremonial.

Tumpeng Menjadi Simbol Rasa Syukur

Kemerdekaan Indonesia merupakan momentum yang sering dirayakan dengan ungkapan rasa syukur.

Tumpeng menjadi salah satu bentuk simbolis dari rasa syukur tersebut.

Doa, kebersamaan, dan makanan yang dibagikan bersama membuat tumpengan memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat.

Karena itu, tumpeng dapat ditempatkan bukan hanya sebagai makanan, tetapi sebagai bagian dari tradisi yang menyertai perayaan kemerdekaan.

Keberagaman Lauk Mencerminkan Kekayaan Kuliner

Tumpeng biasanya tidak disajikan sendirian.

Berbagai lauk dapat ditempatkan mengelilingi nasi, mulai dari sayuran, telur, ayam, tempe, tahu, hingga berbagai makanan tradisional lainnya.

Komposisi tersebut dapat berbeda tergantung tradisi keluarga, daerah, dan jenis acara.

Keberagaman lauk juga menunjukkan kekayaan kuliner Indonesia yang dapat hadir dalam satu sajian.

Tumpeng Tetap Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Perkembangan zaman membuat bentuk perayaan 17 Agustus semakin beragam.

Namun, tumpeng masih dapat ditemukan dalam banyak kegiatan masyarakat.

Mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, kantor, hingga komunitas, tumpengan tetap digunakan untuk menciptakan suasana kebersamaan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tradisi kuliner dapat bertahan ketika nilai yang dibawanya masih dianggap relevan.

Lebih dari Sekadar Nasi dan Lauk

Tumpeng memperlihatkan bagaimana makanan dapat menjadi bagian dari kebudayaan.

Bentuk kerucutnya, posisi puncaknya, cara pembagiannya, hingga kegiatan makan bersama membawa pesan yang berbeda.

Ada filosofi mengenai kehidupan, hubungan manusia dengan Tuhan, rasa syukur, penghormatan terhadap sejarah, serta kebersamaan.

Dalam perayaan 17 Agustus, seluruh makna tersebut berpadu menjadi satu simbol yang dekat dengan masyarakat.

Tumpeng dan Semangat Kemerdekaan

Ketika tumpeng disajikan dalam perayaan Hari Kemerdekaan, hidangan tersebut membawa lebih dari sekadar kenikmatan kuliner.

Tumpeng menjadi bagian dari tradisi yang mengingatkan masyarakat terhadap pentingnya bersyukur, menjaga persatuan, dan menghargai perjalanan bangsa.

Tradisi makan bersama juga mencerminkan semangat kebersamaan yang menjadi salah satu nilai penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Karena itu, tumpeng tetap menjadi salah satu sajian yang memiliki tempat khusus dalam perayaan 17 Agustus.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!